• Kemeriyahan serta kehidmahan itulah yang senantiasa terpancar dari wajah musyawirin, penantian yang begitu panjang guna mendengarkan arahan arahan Beliau Habib Muhammad yahya Bin hasan baharun dalam Pembekalan tadribudda’wah santri musyawirin
  • Disaat penantian itu oleh panitia diputarkan video sejarah berkenaan Syayidina Ali, Syayidina Mu’awiyah dan para shahabat yang lain. Dilanjutkan dengan dialog-dialog ringan oleh para musyawirin yang dipandu oleh beliau Ust. Abdul Mujib dengan Nara sumber ahli sejarah beliau Ust. Abdullah Thoyyib. Dalam dialog itu disampaikan oleh nara sumber bahwa sejarah pada saat ini telah banyak mengalami problematik keauntentikan data. Selang beberapa menit kemudian hadirlah beliau Habib Muhammad yahya bin hasan Baharun dengan di dampingi langsung oleh Beliau KH. Abdullah Faqih.
  • Diawali dengan pembacaan do’a oleh beliau “KH. Abdullah Faqih sebagai pembuka jalanya roda acara dan kemudian dilanjutukan dengan pituah-pituah beliau Habib Muhammad yahya Bin Hasan Baharun. Mengawali dalam pituah nya beliau mengatakan bahwa Pondok Pesantren adalah benteng dari kerusakan Aqidah, nilai nilai keaswajahan secara kaffah senantiasa harus dijaga agar tidak terjadi kerusakan pemahaman dan itu menjadi tugas bagi kita semua sebagai orang yang paham akan Ahlussunnah waljama’ah. Jangan sampai apa yang telah kita anut sebagai pemahaman kita tercampurkan dengan pemahaman pemahaman yang paradok dan bertentangan. Faham syi’ah serta wahabi pada saat ini telah masuk pada masyarakat luas dan bahkan pada kalangan nadhiyyin. Salah satu contoh beliau mengatakan bahwa di daerah Bondowoso sebanyak 60 orang telah masuk ke dalam golongan syiah secara terang-terangan, belum lagi di daerah jember dan pasuruan yang notaben penduduknya adalah dari kalangan Nahdliyin.

Oleh : * Fana *