<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Pesantren Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<atom:link href="https://langitan.net/tag/pesantren/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://langitan.net/tag/pesantren/</link>
	<description>Widang, Tuban, Jawa Timur</description>
	<lastBuildDate>Sat, 23 Sep 2023 12:59:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
	<sy:updatePeriod>
	hourly	</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>
	1	</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=7.0</generator>

<image>
	<url>https://langitan.net/wp-content/uploads/2020/03/cropped-logo-langitan-net-32x32.png</url>
	<title>Pesantren Archives - Pondok Pesantren Langitan</title>
	<link>https://langitan.net/tag/pesantren/</link>
	<width>32</width>
	<height>32</height>
</image> 
	<item>
		<title>Anak Masa Aesthetis</title>
		<link>https://langitan.net/anak-masa-aesthetis/</link>
					<comments>https://langitan.net/anak-masa-aesthetis/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2018 05:00:11 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Tulisan lepas]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=7310</guid>

					<description><![CDATA[<p>Seorang filosof inggris, John Lock, pernah mengatakan, bahwa anak ibarat kertas kosong yang masih putih. Ungkapan ini mengandung maksud, bahwa anak dapat dicetak sesuai dengan keinginan pencetaknya. Ia akan mengikuti pola dan motif yang dibuat oleh pengukirnya. Namun, dalam tataran praktik dan realisasi, ungkapan itu tidak semudah yang dibayangkan, karena anak tidak serta merta akan [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/anak-masa-aesthetis/">Anak Masa Aesthetis</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img fetchpriority="high" fetchpriority="high" decoding="async" class="wp-image-7311 size-full aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2018/04/240875_186486491403976_972399_o.jpg" alt="" width="1021" height="680" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2018/04/240875_186486491403976_972399_o.jpg 1021w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2018/04/240875_186486491403976_972399_o-300x200.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2018/04/240875_186486491403976_972399_o-768x511.jpg 768w" sizes="(max-width: 1021px) 100vw, 1021px" /></p>
<p>Seorang filosof inggris, John Lock, pernah mengatakan, bahwa anak ibarat kertas kosong yang masih putih. Ungkapan ini mengandung maksud, bahwa anak dapat dicetak sesuai dengan keinginan pencetaknya. Ia akan mengikuti pola dan motif yang dibuat oleh pengukirnya. Namun, dalam tataran praktik dan realisasi, ungkapan itu tidak semudah yang dibayangkan, karena anak tidak serta merta akan menurut dan pasrah sebagaimana benda mati. Namun, ia akan melakukan perlawanan dan penolakan, karena dipengaruhi oleh faktor ekstern.</p>
<p>Sebagai orang tua, sudah seharusnya melihat berbagai potensi yang dimiliki oleh anak, baik potensi positif maupun negatif, agar yang positif dapat dieksplorasi dengan maksimal, dan yang negatif dapat dieliminir sedapat mungkin. Pun pula agar orang tua sebagai pencetak dan pengukir anak dapat melihat potensi itu dengan sudut pandang yang benar. Sebab, tidak jarang, potensi positif seorang anak dimatikan oleh orang tua karena dianggap negatif sehingga kerugian besar yang akan didapatkan, sebab anak tidak tumbuh kembang dengan normal.</p>
<p>Anak pada usia 2-6 tahun biasa disebut aesthetis. Tapi menurut Elizabeth Hurloch, disebut dengan Early Childhood, akan mengalami perkembangan psikis yang sangat menonjol. Dalam perkembangannya akan banyak dipengaruhi oleh faktor lingkungan. Memorinya akan menangkap dan menyimpan kejadian-kejadian yang ada di sekitarnya, karena panca inderanya sangat peka, ia akan berusaha meniru hal-hal yang ia dapat. Perkembangan psikis ini dapat dilihat dari kenakalan-kenakalan, pembangkangan terhadap perintah orang tua dan penentangan terhadap nasihatnya.</p>
<p>Hal ini sebenarnya wajar, sebab ia banyak mendapat “ilmu” dari lingkungan sekitarnya, bukan hanya dari orang tua saja. Ketika menentang orang tua, mungkin ia sedang “mempraktikkan” ilmu yang ia dapatkan dari lingkungan sekitarnya. Masa-masa kenakalan seperti ini disebut oleh Oswald Kroh dengan sebutan “Trotzalter” atau masa Trotz. Lengeveld menyebutnya dengan sebutan “Protest Phase”. Sedangkan orang Jawa menyebutnya “kumratu-ratu”.</p>
<p>Pada masa ini, ke-aku-an anak sangat terlihat. Apapun yang diminta harus dipenuhi dan dituruti, karena ia mengidentikkan dirinya sebagai ratu atau raja. Tidak jarang terlihat, anak menangis meraung-raung untuk minta dibelikan sesuatu yang diinginkannya, atau merebut mainan dari temannya karena ke-aku-an tadi. Egonya akan mencoba banyak hal yang dilihatnya. Kalau orang lain bisa, kenapa aku tidak? Hingga banyak keluhan dari ibu-ibu, karena alat kosmetiknya dipakai “berdandan” oleh putrinya. Atau alat-alat dapur berserakan dan entah kemana, karena dipakai masak oleh anak-anak. Akhirnya, yang muncul adalah ungkapan “anak itu nakal”. Padahal sebenarnya tidak. Karena yang demikian ini adalah bentuk expresi dan aktualisasi diri dari seorang anak.</p>
<p>Sebagai orang tua, ada beberapa hal yang dapat dilakukan ketika menghadapi Trozt atau pembangkangan dan berbagai ulah yang ditimbulkan oleh anak.</p>
<ol>
<li>Mengalihkan minat atau kemauanya, yang oleh orang tua dianggap tidak benar. Seperti ketika anak perempuan hobi dengan bermain dan aktifitas anak laki-laki, atau sebaliknya. Sebab akan berpengaruh dengan mental dan perilaku.</li>
<li>Memberikan pengganti barang-barang yang berbahaya dengan benda yang dianggap aman. Seperti anak bermain dengan senjata tajam diganti dengan benda plastik atau kayu yang tidak berbahaya.</li>
<li>Hindari mencela anak, karena akan berpengaruh pada perkembangan mentalnya. Jangan suka mengatakan “anak nakal, anak bodoh, dan semisalnya”. Kata-kata tersebut akan membekas dalam memorinya.</li>
<li>Memuji disaat yang tepat. Pujian yang berlebihan membuat anak merasa jumawa. Sebaliknya, selaan keterlaluan akan membunuh karakter dan kreativitas anak.</li>
<li>Semuan keinginannya tidak harus dipenuhi. Ada kalanya dia harus menelan “ketidak-berhasilan” dari impianya, sebagai latihan mental menerima kenyataan.</li>
<li>Karena fase ini anak mempunyai rasa keingintahuan yang besar, maka tidak jarang, anak akan selalu bertanya tentang hal-hal yang ia lihat. Oleh sebab itu, orang tua harus menjawab pertanyaan dengan kadar pikirannya. Melarang mereka bertanya, sama halnya dengan membunuh kreativitas dan imajinasinya.</li>
<li>Bila mencoba dan melakukan hal-hal yang berbahaya, maka hendaklah orang tua memberi pengertian dengan cara berdialog dan adanya keterbukaan. Karena itu sangat diperlukan, jangan hanya sekedar melarang yang tidak ada dan tidak memberi pengertian pada mereka.</li>
</ol>
<p>Perlu diingat, semua anak pasti pernah nakal, seperti halnya mereka pernah manis dan baik. Dan dari kenakalan itu, secara tidak langsung akan membantu anak membentuk beberapa sifat yang baik, termasuk rasa ingin tahu dan sikap mandiri. Dengan panduan yang tepat, orang tua akan dapat membantu  seorang anak untuk tetap sopan tapi tidak menjdai tidak peka. Yang tidak kalah pentingnya lagi adalah saat menjelaskan kepada anak tentang akibat dari tindakanya,orang tua juga harus membangun kemampuannya untuk berempati. Rasa empati yang kuat akan membantu anak untuk menghentikan kenakalan yang bersifat merusak, mendorongnya berfikir dulu sebelum bertindak dan membantu anak belajar menempatkan dan menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitarnya.</p>
<p>Sumber: <a href="http://menaralangitan.com" target="_blank" rel="noopener">Majalah Langitan</a> / Asnawi</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/anak-masa-aesthetis/">Anak Masa Aesthetis</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/anak-masa-aesthetis/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Mutiara Nasehat KH. Abdulloh Faqih</title>
		<link>https://langitan.net/mutiara-nasehat-kh-abdulloh-faqih/</link>
					<comments>https://langitan.net/mutiara-nasehat-kh-abdulloh-faqih/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 23 Sep 2017 08:03:47 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Toko Online]]></category>
		<category><![CDATA[Dawuh KH. Abdulloh Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Nasihat KH. Abdulloh Faqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6262</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Judul : Mutiara Nasehat KH. Abdulloh Faqih Penerbit : LTN Langitan Halaman : viii+111 Ukuran Kertas : 12&#215;20 cm Harga : Rp 10.000,-</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/mutiara-nasehat-kh-abdulloh-faqih/">Mutiara Nasehat KH. Abdulloh Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><img decoding="async" class="size-medium wp-image-6263 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/14009389_55a6d38c-0f59-4897-9176-bf18989334a9-177x300.jpg" alt="" width="177" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;">Judul : Mutiara Nasehat KH. Abdulloh Faqih<br />
Penerbit : LTN Langitan<br />
Halaman : viii+111<br />
Ukuran Kertas : 12&#215;20 cm<br />
Harga : Rp 10.000,-</p>
<p><a href="https://www.tokopedia.com/penerbitlangitan/mutiara-nasehat-kh-abdulloh-faqih?trkid=f=Ca0000L000P0W0S0Sh00Co0Po0Fr0Cb0_src=shop-product_page=1_ob=11_q=_catid=902_po=3"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-6165 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/BELI-SEKARANG-300x53-300x53.png" alt="" width="300" height="53" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/mutiara-nasehat-kh-abdulloh-faqih/">Mutiara Nasehat KH. Abdulloh Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/mutiara-nasehat-kh-abdulloh-faqih/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Gebyar Sholawat dalam Rangka Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1439H</title>
		<link>https://langitan.net/gebyar-sholawat-dalam-rangka-memeriahkan-tahun-baru-hijriyah-1-muharram-1439h/</link>
					<comments>https://langitan.net/gebyar-sholawat-dalam-rangka-memeriahkan-tahun-baru-hijriyah-1-muharram-1439h/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 21 Sep 2017 22:59:44 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[1439]]></category>
		<category><![CDATA[gebyar shalawat]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<category><![CDATA[tahun baru Islam]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6228</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160;</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/gebyar-sholawat-dalam-rangka-memeriahkan-tahun-baru-hijriyah-1-muharram-1439h/">Gebyar Sholawat dalam Rangka Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1439H</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[
<p><iframe src="https://archive.org/embed/ShalawatLangitan_201709" width="640" height="480" frameborder="0" allowfullscreen="allowfullscreen"></iframe></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/gebyar-sholawat-dalam-rangka-memeriahkan-tahun-baru-hijriyah-1-muharram-1439h/">Gebyar Sholawat dalam Rangka Memeriahkan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharram 1439H</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/gebyar-sholawat-dalam-rangka-memeriahkan-tahun-baru-hijriyah-1-muharram-1439h/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Malam Peringatan Tahun Baru Islam 1439</title>
		<link>https://langitan.net/malam-peringatan-tahun-baru-islam-1439/</link>
					<comments>https://langitan.net/malam-peringatan-tahun-baru-islam-1439/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 20 Sep 2017 17:16:17 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Gallery]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6208</guid>

					<description><![CDATA[<p>The post <a href="https://langitan.net/malam-peringatan-tahun-baru-islam-1439/">Malam Peringatan Tahun Baru Islam 1439</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<div class="et_pb_section et_pb_section_0 et_section_regular" >
				
				
				
				
				
				
				<div class="et_pb_row et_pb_row_0">
				<div class="et_pb_column et_pb_column_4_4 et_pb_column_0  et_pb_css_mix_blend_mode_passthrough et-last-child">
				
				
				
				
				<div class="et_pb_module et_pb_text et_pb_text_0  et_pb_text_align_left et_pb_bg_layout_light">
				
				
				
				
				<div class="et_pb_text_inner"><p style="text-align: center;">Galery Malam Pergantian Tahun Baru Islam 1 Muharram 1439 H</p>
<p style="text-align: center;">di Musholla Agung Langitan, Rabu 20 September 2017</p>
<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6209" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.57-2-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6210" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.57-1-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6211" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.57-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6212" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.56-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6213" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.55-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6214" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.54-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6215" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.53-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6216" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.52-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6218" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.49-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6219" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.45-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6220" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.46-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6221" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.48-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6222" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.43-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /> <img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-medium wp-image-6223" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/WhatsApp-Image-2017-09-20-at-23.29.58-300x300.jpeg" alt="" width="300" height="300" /></p></div>
			</div>
			</div>
				
				
				
				
			</div>
				
				
			</div>
<p>The post <a href="https://langitan.net/malam-peringatan-tahun-baru-islam-1439/">Malam Peringatan Tahun Baru Islam 1439</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/malam-peringatan-tahun-baru-islam-1439/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Membedakan Apa yang Dibenci dan Dicintai Allah</title>
		<link>https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/</link>
					<comments>https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sun, 17 Sep 2017 04:10:41 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6170</guid>

					<description><![CDATA[<p>Orang yang cinta, tentu akan melakukan segala hal demi yang ia cintai dan takut jika ketahuan melakukan apa yang dibenci. Allah adalah Dzat yang Maha Melihat, Mengawasi dan Mengetahui. Dia tahu segala gerak dan semua yang terucap dari hambanya. Seorang saalik yang ingin mendekatkan dirinya pada yang ia cintai (Allah Swt.), tentu ingin segala gerak yang ia [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/">Membedakan Apa yang Dibenci dan Dicintai Allah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img decoding="async" class="size-medium wp-image-6172 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/8-golongan-yang-dicintai-allah1.jpg" /></p>
<p>Orang yang cinta, tentu akan melakukan segala hal demi yang ia cintai dan takut jika ketahuan melakukan apa yang dibenci. Allah adalah Dzat yang Maha Melihat, Mengawasi dan Mengetahui. Dia tahu segala gerak dan semua yang terucap dari hambanya.</p>
<p>Seorang <em>saalik</em> yang ingin mendekatkan dirinya pada yang ia cintai (Allah Swt.), tentu ingin segala gerak yang ia kerjakan, dan segala kata yang terucap, selalu mendapat restu dari Allah Swt. Dalam konteks melakukan apa yang ia cintai dan menjauhi hal yang ia benci. Nah, bagaimanakah cara mengetahui hal tersebut? Ada beberapa cara, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Mendengar</strong></li>
</ol>
<p>Yaitu mendengar al-Qur’an dan hadis, serta mengaplikasikannya ke dalam setiap gerak kehidupan. Tentu saja hal ini bias terelalisasikan jika <em>saalik </em>mau mempelajarinya, mengetahui maksudnya, hingga mempraktikkannya.</p>
<ol start="2">
<li><strong>Melihat</strong></li>
</ol>
<p>Yang dimaksud di sini adalah melihat dengan mata hati (<em>bashirah al-qalbi</em>), yaitu berangan-angan terhadap segala hal yang terjadi, dengan pemikiran mengambil dan memahami segala sesuatu, sebagai bentuk <em>‘ibrah</em>(pelajaran). Hal ini sangatlah sulit dan langka. Karena itu, Allah Swt. Kemudian mengutus Rasul ke muka bumi, guna memudahkan jalan bagi makhlukNya, untuk menemukan hal tersebut.</p>
<p><em>Saalik </em>akan mengetahui hal ini jika ia sudah mengetahui semua hukum syara’ dalam setiap apa yang ia lakukan. Bagian kedua ini adalah mengetahui hikmah pada setiap yang diciptakan oleh Allah Swt. Karena Dia tidak akan Menciptakan sesuatu kecuali bernilai hikmah. Di bagian yang lebih dalam dari hikmah, terdapat tujuan. Dan tujuan inilah yang disebut dengan <em>al-Mahbub</em>, Allah Swt.</p>
<p>Dalam pengambilan hikmah yang bias mengantarkan <em>saalik</em> pada apa yang ia tuju, terbagi menjadi dua bagian, yaitu:</p>
<ol>
<li><strong>Hikmah</strong> <strong><em>Jaliyyah</em></strong><strong> (</strong><strong>J</strong><strong>elas)</strong></li>
</ol>
<p>Hikmah <em>jaliyyah</em> adalah seperti mengetahui bahwa penciptaan matahari adalah untuk mengetahui perbedaan antara siang dan malam. Ketika siang, mata bisa melihat dengan mudah hingga bisa digunakan untuk bekerja. Sedang di waktu malam, mata seolah tertutup hingga sangat tepat untuk digunakan istirahat. Ini adalah sebagian dari hikmah matahari padahal, masih banyak hikmah lainnya yang sangat banyak dan sulit terdeteksi.</p>
<p>Dan al-Qur’an telah memuat hal tersebut dalam sebagian hal dari hikmah yang sesuai dengan pemahaman makhluk. Bahkan, hal yang sangat rumit yang otak manusia kadang tidak akan bisa menjangkaunya. Allah SWT. Berfirman: “<em>Sesungguhnya kami benar-benar</em><em> t</em><em>elah</em> <em>mencurahkan air (dari</em> <em>langit),</em><em> k</em><em>emudian kami belah</em><em>bumi</em> <em>dengan</em> <em>sebaik-baiknya,</em><em> l</em><em>alu kami tumbuhkan</em> <em>biji-bijian di bumi</em> <em>itu,</em><em> a</em><em>nggur</em> <em>dan</em> <em>sayur-sayuran”</em> (Q.S. ‘Abasa: 25-28).</p>
<ol start="2">
<li><strong>Hikmah</strong> <strong><em>Kh</em></strong><strong><em>a</em></strong><strong><em>fiyyah </em></strong><strong>(</strong><strong>S</strong><strong>amar)</strong></li>
</ol>
<p>Adalah seperti hikmah penciptaan bintang yang beredar dan berhenti. Tidak semua makhluk bisa mengetahui hikmah penciptaannya. Adapun kadar dari kepahaman mereka adalah bintang sebagai perhiasan langit agar mata bisa merasakan kelezatan untuk memandangnya. Sebagaimana firman Allah<em>: “Sesungguhnya kami </em><em>t</em><em>elah</em> <em>menghias</em> <em>langit yang terdekat</em> <em>dengan</em> <em>hiasan, yaitu</em> <em>bintang-bintang”</em> (Q.S. as-Saffaat: 06).</p>
<p>Segala hal dari alam baik itu langit, bintang, angin, samudera, gunung, mata air, tumbuhan dan hewan, tidak terkecuali semut paling kecil sekalipun, semuanya memuat banyak sekali hikmah yang tak terhingga. Banyak manusia yang tidak mengetahuinya, atau jika tahupun, mereka hanya bisa mengetahui sebagian kecil, bukan keseluruhannya.</p>
<p><strong>Saatnya</strong> <strong>Dicinta</strong></p>
<p>Allah Swt. telah memberi hikmah dalam kehidupan bahwa seseorang yang dicintai, tentu akan senang jika yang mencintainya semaksud dengan yang ia cintai dan yang ia benci. Maka, pasti Allah Swt.pun akan mencintai hambaNya yang cinta padaNya, jika hambaNya mau menjauhi larangan dan melakukan hal yang Allah cintai. Dan Allah pun pasti akan membalasnya dengan cinta pula.</p>
<p>Adapun, karena kita bukan Rasul yang mendapat petunjuk langsung hingga bias mengetahui secara langsung apa yang di cintai oleh Allah, maka tentu saja yang harus kita lakukan adalah meniru segala tingkah, gerak, dan ucap yang dilakukan oleh Rasul. Dengan melihat firman Allah, sabda Rasul, dan melihat hikmah kehidupan sebagai pembuka tabir jalan yang lurus. Dengan semua itu, semoga kita bisa sesuai dengan apa yang di maksud dan apa yang dicintai oleh Allah Swt. Bukannya tersesat dengan merasa dicinta, padahal mendapat murka.</p>
<p><strong>Sumber: <a href="http://menaralangitan.com">Majalah Langitan</a> / Muhammad Ichsan</strong></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/">Membedakan Apa yang Dibenci dan Dicintai Allah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/membedakan-apa-yang-dibenci-dan-dicintai-allah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Potret Dan Teladan Syaichina KH. Abdulloh Faqih</title>
		<link>https://langitan.net/teladan-syaichina-kh-abdulloh-faqih-seri-2-2/</link>
					<comments>https://langitan.net/teladan-syaichina-kh-abdulloh-faqih-seri-2-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 16 Sep 2017 03:55:04 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Toko Online]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[profil KH Abdullah Faqih]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6163</guid>

					<description><![CDATA[<p>Judul : Potret Dan Teladan Syaichina KH. Abdulloh Faqih Penerbit : Kakilangit Book Halaman : vi+251 Ukuran Kertas : 12&#215;18 cm Harga : Rp 30.000</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/teladan-syaichina-kh-abdulloh-faqih-seri-2-2/">Potret Dan Teladan Syaichina KH. Abdulloh Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6171 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/14009389_25b5b811-119b-411e-98aa-9f64c78ab0be-195x300.jpg" alt="" width="195" height="300" /></p>
<p style="text-align: center;">Judul : Potret Dan Teladan Syaichina KH. Abdulloh Faqih<br />
Penerbit : Kakilangit Book<br />
Halaman : vi+251<br />
Ukuran Kertas : 12&#215;18 cm<br />
Harga : Rp 30.000</p>
<p><a href="https://www.tokopedia.com/penerbitlangitan/potret-dan-teladan-syaichina-kh-abdulloh-faqih?trkid=f=Ca0000L000P0W0S0Sh00Co0Po0Fr0Cb0_src=shop-product_page=1_ob=11_q=_catid=902_po=2"><img decoding="async" class="size-medium wp-image-6165 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/BELI-SEKARANG-300x53-300x53.png" alt="" width="300" height="53" /></a></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/teladan-syaichina-kh-abdulloh-faqih-seri-2-2/">Potret Dan Teladan Syaichina KH. Abdulloh Faqih</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/teladan-syaichina-kh-abdulloh-faqih-seri-2-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KH. Abdullah Munif Marzuqi: Menumbuhsuburkan Sikap Tawadlu&#8217;</title>
		<link>https://langitan.net/kh-abdullah-munif-marzuqi-menumbuhsuburkan-sikap-tawadlu/</link>
					<comments>https://langitan.net/kh-abdullah-munif-marzuqi-menumbuhsuburkan-sikap-tawadlu/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Sep 2017 00:36:29 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[berita pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[KH. Abdullah Munif Marzuqi]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[PKNU]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6157</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; Manusia itu terdiri atas jasmani dan ruhani, yang harus dipenuhi kebutuhannya dan dipelihara stabilitasnya secara seimbang. Kita sering mengisi dan mengasah otak kita dengan ilmu pengetahuan, tapi kita melupakan ruhani kita dengan siraman ruhani (agama), baik akidah, ibadah, maupun akhlak hingga tumbuhlah manusia-manusia yang berperilaku sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain. Ada beberapa [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kh-abdullah-munif-marzuqi-menumbuhsuburkan-sikap-tawadlu/">KH. Abdullah Munif Marzuqi: Menumbuhsuburkan Sikap Tawadlu&#8217;</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="alignnone size-full wp-image-7181" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/1.Yai-Munif-copy-1-1.jpg" alt="" width="800" height="800" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/1.Yai-Munif-copy-1-1.jpg 800w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/1.Yai-Munif-copy-1-1-150x150.jpg 150w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/1.Yai-Munif-copy-1-1-300x300.jpg 300w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/1.Yai-Munif-copy-1-1-768x768.jpg 768w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/09/1.Yai-Munif-copy-1-1-440x440.jpg 440w" sizes="(max-width: 800px) 100vw, 800px" />Manusia itu terdiri atas jasmani dan ruhani, yang harus dipenuhi kebutuhannya dan dipelihara stabilitasnya secara seimbang. Kita sering mengisi dan mengasah otak kita dengan ilmu pengetahuan, tapi kita melupakan ruhani kita dengan siraman ruhani (agama), baik akidah, ibadah, maupun akhlak hingga tumbuhlah manusia-manusia yang berperilaku sombong, membanggakan diri dan merendahkan orang lain.</p>
<p>Ada beberapa hal yang menyebabkan manusia bisa berlaku sombong antara lain: pengaruh kecintaan terhadap dunia, kebanggaan terhadap ilmu yang dimilikinya atau juga kekuasaan. Semua sifat itu sudah disinggung dalam al-Qur-an dengan para pelakunya. Dalam Surat al-Qashash ayat 76 disebutkan: <em>“Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga, sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri.”</em></p>
<p>Dalam ayat lain, kita bisa melihat bagaimana kesombongan Fir’aun dengan memanfaatkan keilmuan tangan kanannya yang bernama Haman. <em>“Dan berkatalah Fir’aun: “Hai Haman, buatkanlah bagiku sebuah bangunan yang tinggi supaya aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, supaya aku dapat melihat Tuhan Musa dan Sesungguhnya aku memandangnya seorang pendusta.”</em> (QS al-Mu’min: 36-37)</p>
<p>Itulah gambaran al-Quran tentang manusia-manusia yang berkedudukan tinggi dan terhormat di tengah-tengah masyarakatnya, baik lantaran ilmu, kekayaan, dan kekuasaan, tetapi tidak dibarengi dengan bimbingan ruhani yang bersifat keagamaan. Mereka justru menentang ajaran agama yang dibawa oleh para utusan Allah.</p>
<p>Perilaku di atas jelas-jelas merupakan penyakit yang mengkhawatirkan dan harus dicarikan obat penawarnya, salah satunya tentu –seperti yang diajarkan oleh Rasulullah Saw- adalah menumbuh-suburkan sikap tawadlu’. Sikap ini bisa dimaknai dengan rendah hati,  tidak sombong. Atau lebih dalam lagi bahwa manusia tidak melihat dirinya memiliki nilai lebih dibandingkan hamba Allah yang lainnya. Banyak dalil yang menganjurkan kepada umat agar bersikap tawadlu’.</p>
<p>وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ</p>
<p><em>“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”</em> (QS. Luqman: 18)</p>
<p>وَعِبَادُ الرَّحْمَنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا</p>
<p><em>“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”</em> (QS. al-Furqan [25]: 63)</p>
<p>‘Iyadh bin Himar ra. berkata: “Bersabda Rasulullah Saw: <em>“Sesungguhnya Allah Swt telah mewahyukan kepadaku: “Bertawadlu’lah hingga seseorang tidak menyombongkan diri terhadap lainnya dan seseorang tidak menganiaya terhadap lainnya.”</em> (HR. Muslim). Rasulullah Saw juga bersabda: <em>“Tiada berkurang harta karena sedekah, dan Allah tiada menambah pada seseorang yang memaafkan melainkan kemuliaan.<strong> </strong>Dan tiada seseorang yang bertawadlu’ kepada Allah, melainkan dimuliakan (mendapat ‘izzah) oleh Allah.”<strong> </strong></em>(HR. Muslim).</p>
<p>Seseorang yang bersikap tawadlu’ akan menyadari bahwa semua kenikmatan yang didapatnya bersumber dari Allah Swt. Yang dengan pemahamannya tersebut maka tidak pernah terbesit sedikitpun dalam hatinya kesombongan dan merasa lebih baik dari orang lain, tidak merasa bangga dengan potensi dan prestasi yang sudah dicapainya. Ia tetap rendah diri dan selalu menjaga hati dan niat segala amal salihnya dari segala sesuatu selain Allah. Tetap menjaga keikhlasan amal ibadahnya hanya karena Allah.</p>
<p>Kemudian, di saat ia bertambah ilmunya maka bertambah pula sikap tawadhu’ dan kasih sayangnya. Semakin bertambah amalnya maka semakin meningkat pula rasa takut dan waspadanya. Setiap kali bertambah usianya maka semakin berkuranglah ketamakan nafsunya. Setiap kali bertambah hartanya maka bertambahlah kedermawanan dan kemauannya untuk membantu sesama. Dan setiap kali bertambah tinggi kedudukan dan posisinya maka semakin dekat pula dia dengan manusia dan berusaha untuk menunaikan berbagai kebutuhan mereka serta bersikap rendah hati kepada mereka. <em>Wallahu a’lam.</em></p>
<p>Sumber: <a href="http://menaralangitan.com">Majalah Langitan</a></p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kh-abdullah-munif-marzuqi-menumbuhsuburkan-sikap-tawadlu/">KH. Abdullah Munif Marzuqi: Menumbuhsuburkan Sikap Tawadlu&#8217;</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/kh-abdullah-munif-marzuqi-menumbuhsuburkan-sikap-tawadlu/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Festival Majalah Harakah</title>
		<link>https://langitan.net/festival-majalah-harakah/</link>
					<comments>https://langitan.net/festival-majalah-harakah/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Thu, 06 Apr 2017 22:49:39 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[adly al-fadly usmuni]]></category>
		<category><![CDATA[flp yaman]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<category><![CDATA[stand up komedi]]></category>
		<category><![CDATA[stand up santri]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6088</guid>

					<description><![CDATA[<p>Kamis malam (30/3) segenap anggota dan Pengurus FKJS (Forum Kajian Jurnalistik dan Sastra) mengikuti Sarasehan Budaya Kepenulisan oleh Adly al-Fadly Usmuni dari FLP Yaman. Acara yang berlangsung di Kantor Amm ini merupakan agenda dalam rangka memperingati Harlah Majalah Harakah yang ke-17. Pada malam tersebut juga diisi pelantikan pengurus FKJS yang baru oleh Rais Amm, Ust. [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/festival-majalah-harakah/">Festival Majalah Harakah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6089 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/04/17758070_1178099798969590_1800205737_n-300x200.jpg" alt="" width="300" height="200" /><br />
Kamis malam (30/3) segenap anggota dan Pengurus FKJS (Forum Kajian Jurnalistik dan Sastra) mengikuti Sarasehan Budaya Kepenulisan oleh Adly al-Fadly Usmuni dari FLP Yaman. Acara yang berlangsung di Kantor Amm ini merupakan agenda dalam rangka memperingati Harlah Majalah Harakah yang ke-17. Pada malam tersebut juga diisi pelantikan pengurus FKJS yang baru oleh Rais Amm, Ust. Saifuddin.</p>
<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6090 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/04/17741264_1178099802302923_1845151440_n-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /><br />
Selain diatas, pada hari Jumat (31/3) diadakan pula Stand Up Santri Langitan &amp; Baca Puisi. Lapangan al-Falahiyah sebelah timur riuh tepuk tangan ketika para komika dan penyair dari masing-masing kelas satu persatu menunjukkan aksinya. Sebelum pengumuman pemenang Stand Up &amp; Puisi, diumumkan juga pemenang TTS, Desain, dan Karikatur. Perlu diketahui sebelumnya bahwa Majalah Harakah adalah majalah intra sekolah yang diterbitkan oleh Madrasah al-Falahiyah Langitan. [MNK]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/festival-majalah-harakah/">Festival Majalah Harakah</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/festival-majalah-harakah/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>KH. M. Ali Marzuqi: Memilih Tempat Pendidikan Anak</title>
		<link>https://langitan.net/kh-m-ali-marzuqi-memilih-tempat-pendidikan-anak/</link>
					<comments>https://langitan.net/kh-m-ali-marzuqi-memilih-tempat-pendidikan-anak/#comments</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2017 01:32:52 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Taushiyah]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[KH. M. Ali Marzuqi]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Langituna]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Pondok Pesantren Langitan.]]></category>
		<category><![CDATA[taushiyah masyayikh langitan]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6056</guid>

					<description><![CDATA[<p>Peran orangtua sebagai pengasuh, pengurus, pengawas dan pemelihara anak sangatlah penting. Karena pentingnya tugas di atas, maka wajar jika kemudian Allah memerintahkan kepada sang anak untuk patuh kepada orang tua. Tidak diperkenankan menyakiti hati orang tua atau melakukan tindakan yang dapat merendahkan derajat meraka. Bahkan dengan tegas Allah melarang anak untuk berkata “uff” atau “hus” [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kh-m-ali-marzuqi-memilih-tempat-pendidikan-anak/">KH. M. Ali Marzuqi: Memilih Tempat Pendidikan Anak</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-full wp-image-7184 alignleft" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/02/Yai-Ali-langitan.jpg" alt="" width="363" height="520" srcset="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/02/Yai-Ali-langitan.jpg 363w, https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/02/Yai-Ali-langitan-209x300.jpg 209w" sizes="(max-width: 363px) 100vw, 363px" />Peran orangtua sebagai pengasuh, pengurus, pengawas dan pemelihara anak sangatlah penting. Karena pentingnya tugas di atas, maka wajar jika kemudian Allah memerintahkan kepada sang anak untuk patuh kepada orang tua. Tidak diperkenankan menyakiti hati orang tua atau melakukan tindakan yang dapat merendahkan derajat meraka. Bahkan dengan tegas Allah melarang anak untuk berkata “uff” atau “hus” kepada orang tua.</p>
<p>Islam telah mengatur hubungan antara orang tua dengan anak dengan sangat baik. Ada kewajiban dan hak bagi kedua belah pihak. Salah satu kewajiban peting orang tua yang secara otomatis menjadi hak anak adalah pendidikan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah bersabda:<br />
Dari Abu Hurairah ra, Nabi saw bersabda, “Sesungguhnya kewajiban orang tua dalam memenuhi hak anak itu ada tiga, yakni: pertama, memberi nama yang baik ketika lahir. Kedua, mendidiknya dengan Al-Qur’an dan ketiga, mengawinkan ketika menginjak dewasa.”</p>
<p>Pentingnya pendidikan juga dapat dicerna dari cerita yang terjadi pada Sayyidina Umar bin Khaththab. Pada suatu kesempatan, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab kehadiran seorang tamu lelaki yang mengadukan kenakalan anaknya, “Anakku ini sangat bandel.” tuturnya kesal. Amirul Mukminin berkata, “Hai Fulan, apakah kamu tidak takut kepada Allah karena berani melawan ayahmu dan tidak memenuhi hak ayahmu?” Anak yang pintar ini menyela. “Hai Amirul Mukminin, apakah orang tua tidak punya kewajiban memenuhi hak anak?”<br />
Umar ra menjawab, “Ada tiga, yakni: pertama, memilihkan ibu yang baik, jangan sampai kelak terhina akibat ibunya. Kedua, memilihkan nama yang baik. Ketiga, mendidik mereka dengan Al-Qur’an.”</p>
<p style="text-align: left;">Mendengar uraian dari Khalifah Umar ra anak tersebut menjawab, “Demi Allah, ayahku tidak memilihkan ibu yang baik bagiku, akupun diberi nama “Kelelawar Jantan”, sedang dia juga mengabaikan pendidikan Islam padaku. Bahkan walau satu ayatpun aku tidak pernah diajari olehnya. Lalu Umar menoleh kepada ayahnya seraya berkata, “Kau telah berbuat durhaka kepada anakmu, sebelum ia berani kepadamu…”<br />
Berangkat dari hadits dan cerita di atas, pendidikan menjadi salah satu kewajiban penting orang tua atas anak. Orang tua wajib menyediakan pendidikan bagi anak sesuai dengan tuntunan Al-Qur’an. Sebab lewat kebijakan pendidikan orangtualah anak menjadi teguh agamanya atau malah sebaliknya, menjadikan Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi. Dalam sebuah hadis disebutkan:</p>
<p style="text-align: right;">عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ؛ أَنَّهُ كَانَ يَقُوْلُ:<br />
قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ إِلاَّ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ. فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْيُنَصِّرَانِهِ أَوْيُمَجِّسَانِهِ.</p>
<p>Hadis riwayat Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu alaihi wassalam bersabda: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani maupun seorang Majusi.”<br />
Sebentar lagi, kita sebagai orang tua akan menghadapi kelulusan anak dari sekolahnya. Hendaknya kita berhati-hati dalam mengarahkan anak untuk memilih lembaga pendidikan. Harus diteliti apakah lembaga tersebut menjunjung tinggi nilai-nilai agama atau tidak.</p>
<p>Pilihlah pendidikan yang dapat menghantarkan anak kepada Allah dan ilmu-ilmuNya. Karena dengan keduanyalah anak akan selamat dari badai kehidupan. Seberat apapun kondisinya, jika kita membekali anak dengan mengenal Allah dan ilmu-ilmuNya maka mereka akan dapat melewati masa-masa sulit dan tidak mudah lengah dengan kondisi yang sukses.</p>
<p>Dan sebaliknya, sesukses apapun anak jika tidak mengetahui Tuhan dan ilmu-ilmuNya maka dia akan menjadi pribadi yang mudah terombang-ambing, seperti kapas tertiup angin Lupa pada masa kejayaan dan bingung pada masa-masa sulit. Mereka akan menjadi pribadi yang lemah.<br />
Apabila kita ingin membahagiakan dengan kebahagiaan yang sempurna, kita bisa mengirim anak-anak ke pesantren atau lembaga pendikan yang mengajarkan ilmu-ilmu yang mengantar kepada-Nya. Sebab sebagaimana isyarat dari Rasulullah, bahwa tanda orang-orang yang diberi kebahagiaan sempurna adalah mereka yang dipahamkan tentang masalah agama.</p>
<p>Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan (yang sempurna) padanya niscaya akan dipahamkan dalam [ilmu] agama.” (HR. Bukhari dan Muslim dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu’anhu)</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/kh-m-ali-marzuqi-memilih-tempat-pendidikan-anak/">KH. M. Ali Marzuqi: Memilih Tempat Pendidikan Anak</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/kh-m-ali-marzuqi-memilih-tempat-pendidikan-anak/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>1</slash:comments>
		
		
			</item>
		<item>
		<title>Menyelami Keagungan Nikmat Allah dalam Tafakkur</title>
		<link>https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/</link>
					<comments>https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/#respond</comments>
		
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
		<pubDate>Wed, 18 Jan 2017 02:17:14 +0000</pubDate>
				<category><![CDATA[Ngaji Ihya]]></category>
		<category><![CDATA[kh. abdullah faqih]]></category>
		<category><![CDATA[langitan]]></category>
		<category><![CDATA[Masalah Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[pondok]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakkur atas Ciptaan Allah]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakkur dalam Maksiat]]></category>
		<category><![CDATA[Tafakkur dalam Tho’at]]></category>
		<guid isPermaLink="false">https://langitan.net/?p=6018</guid>

					<description><![CDATA[<p>&#160; &#160; Segala pujian taruntuk Dzat yang tak pernah bosan membagi nikmat bagi hambanya. Memberikan kebahagiaan bagi semuanya, menciptakan setiap keindahan dalam bayang-bayang dunia, bahkan setiap ciptaannya tidak luput dari guna dan manfaat untuk hambanya. Dia adalah Dzat yang tak pernah lalai dengan janji-janjinya, dzat yang paling tepat untuk curahan hati dalam duka maupun suka, [&#8230;]</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/">Menyelami Keagungan Nikmat Allah dalam Tafakkur</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></description>
										<content:encoded><![CDATA[<p>&nbsp;</p>
<p><a href="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/01/wpid-19.jpg"><img loading="lazy" loading="lazy" decoding="async" class="size-medium wp-image-6019 aligncenter" src="https://langitan.net/wp-content/uploads/2017/01/wpid-19-300x250.jpg" alt="" width="300" height="250" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Segala pujian taruntuk Dzat yang tak pernah bosan membagi nikmat bagi hambanya. Memberikan kebahagiaan bagi semuanya, menciptakan setiap keindahan dalam bayang-bayang dunia, bahkan setiap ciptaannya tidak luput dari guna dan manfaat untuk hambanya. Dia adalah Dzat yang tak pernah lalai dengan janji-janjinya, dzat yang paling tepat untuk curahan hati dalam duka maupun suka, yang mengetahui bisikan dan kehendak hati manusia, pengabul do’a, serta pemberi kebahagiaan abadi kelak ketika tiada berguna lagi keluarga dan harta.</p>
<p>Banyak sekali keterangan dalam Al-Qur’an ataupun hadits yang menjelaskan tentang fadhilah tafakkur. Allah pun memuji setiap hambanya yang bertafakkur seperti dalam firmannya, <em>“(yaitu) Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “ Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia, maha suci engkau, lindungilah kami dari adzab neraka</em>”.</p>
<p>Dalam sebuah hadits disebutkan, “Tafakkur sesaat itu lebih baik dari pada ibadah satu tahun”.</p>
<p>Diceritakan dari Ibnu Abbas r.a. bahwa ada suatu kaum yang sedang bertafakkur tentang Dzat Allah Swt., kemudian Nabi berkata : “Bertafakkurlah tentang ciptaan Allah dan jangan bertafakkur pada dzat Allah, karena kalian tidak akan mampu menyelaminya.”</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tafakkur atas Ciptaan Allah</strong></p>
<p>Seorang hamba akan bisa merasakan betapa agungnya Allah ketika mau mengorek lebih dalam atas manfaat, guna, maupun keajaiban-keajaibannya. Seseorang akan bisa mengetahui akan kebesaran Allah, sehingga karenanya hati orang tersebut akan lebih condong dan bersyukur pada nikmat-nikmat yang telah dimiliki, juga bisa lebih berbesar hati dengan menerima setiap nikmat itu tanpa harus mengharap nikmat lain yang semua itu hanya bersumber dari nafsunya. Keadaan demikian akan menambah keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah hingga berimbas akan lahir benih-benih keta’atan, juga akan terlantun bacaan tahmid dan tasbih dalam hati seorang hamba ketika ia menyaksikan setiap keagungan ciptaan Allah dalam seluruh langkahnya. Sungguh betapa besar maha karya Allah, betapa indah racikan kehidupan yang ia suguhkan, betapa menakjubkan setiap goresan yang ia berikan, maha besar dan agung Allah tuhan semesta alam.</p>
<p>Selain itu, tafakkur pada anggota badan secara terperinci juga penting, selain untuk menambah kualitas ibadah kita kepada Allah juga untuk evaluasi diri, <em>muhasabah</em> tentang amal-amal buruk yang kita lakukan yang bertujuan agar manusia menjadi lebih baik dan dalam rangka memepertebal keimanan kepada Allah dengan cara memikirkan maksiat yang telah kita kerjakan ataupun keta’atan-keta’atan yang belum kita lakukan dan memohon keselamatan pada Tuhan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tafakkur dalam <em>Tho’at</em></strong></p>
<p>Maka yang pertama kali harus di evaluasi adalah tentang ibadah sholat maktubah. Tentang bagaimana kita menjalankannya, bagaimana menjaganya dari kekurangan dan keteledoran atau mengganti kekurangan itu dengan memperbanyak sholat sunnah.</p>
<p>Kemudian dalam anggota badan tentang bagaimana pekerjaan yang kita lakukan akan mampu mendekatkan kita pada sesuatu yang dicintai oleh Allah. Seumpama berkata kepada matanya : “Mata itu diciptakan untuk bisa melihat keindahan langit dan bumi sebagai bukti kebesaran Allah, supaya lebih bertaqwa kepada Allah, dan merenungi Al-Qur’an seta hadits. Saya mampu menyibukkan mata ini agar selalu <em>memuthola</em><em>’</em><em>ah</em> Al-Qur’an dan hadits tapi saya tidak melakukannya. Dan saya juga mampu melihat pada seseorang yang tho’at dengan pandangan mengagungkannya dan memberikan kebahagiaan pada hatinya. Juga melihat pada orang fasiq dengan pandangan ingkar kemudian menjauhkan dari maksiatnya tapi saya tidak melakukannya”.</p>
<p>Juga berkata pada telinga: “aku mampu mendengarkan kalam hikmah dan ilmu atau mendengarkan bacaan Al-Qur’an dan dzikir, tapi aku tidak menghiraukannya padahal Allah telah memberikan nikmat kepadaku tapi aku mengingkari nikmat itu dengan tidak mensyukurinya”.</p>
<p>Begitu juga tafakkur pada lisan dengan berkata: “Sesungguhnya aku mampu mendekatkan diriku kepada Allah dengan mengajar, member nasihat yang baik, memberikan kabar kebahagiaan bagi orang-orang yang berbuat baik, dan dengan bertanya tentang bagaimana keadaan orang-orang faqir dan memberikan kebahagiaan pada orang yang sholih dan alim dengan kata-kata yang indah. Karena segala bentuk kata-kata yang indah atau baik itu terhitung shodaqoh”.</p>
<p>Begitu juga dengan tafakkur pada hartanya dengan berkata: “Aku bisa men<em>shodaqoh</em>kan harta yang tidak kubutuhkan pada orang-orang itu, dan ketika aku membutuhkannya, Allah akan mengganti dengan yang menyamainya apabila aku butuh sekarang.</p>
<p>Begitu juga dengan anggota-anggota yang lain termasuk harta bahkan kendaraan. Karena semua itu adalah sebab-sebab tafakkur, sehingga akan menjadikan kita lebih <em>tho’at</em> kepada Allah, juga akan muncul kethoatan-kethoatan yang lebih sebab tafakkur yang lebih dalam. Juga tafakkur pada keadaan yang menjadikan kita lebih suka pada tho’at, tafakkur pada ihlasnya niat, dan mencari hakikat sesungguhnya dalam suatu ibadah, sehingga seseorang akan mampu membersihkan amal-amalnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong>Tafakkur dalam Maksiat</strong></p>
<p>Bertafakkur dalam maksiat adalah dengan cara mengingatkan pada lisan dan berkata “Aku menggunakannya untuk ghibah, bohong, mengagungkan diri sendiri, menghina orang lain, mencela, berdebat yang tidak perlu dan bercanda yang tidak perlu, dan yang lainnya dalam perbuatan tercela. Kemudian pertama adalah mengakui pada dirinya bahwa semua adalah perkara yang dibenci oleh Allah.</p>
<p>Tafakkur pada telinga dengan berkata “Aku menggunakannya untuk menggunakan ghibah, kebohongan,, kata-kata yang tidak penting, canda gurau dan bid’ah dan semua itu kudengar dari mereka, padahal aku harus menjauhinya dan berbuat nahi munkar”.</p>
<p>Juga pada perut yang adakalnya berbuat maksiat kepada Allah dalam makan dan minum, dengan memperbanyak makan halal padahal itu dibenci oleh Allah dan memperbesar syahwat, yang syahwat tersebut adalah senjatanya syaitan sang musuh Allah. Dan adakalanya makan barang haram atau syubhat. maka renungilah dari mana semua itu berasal baik makanan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan dan apa yang dikerjakan. Juga mengakui pada dirinya bahwa seluruh ibadah itu akan sia-sia jika makanan yang kita makan adalah haram. Dan makanan halal adalah pondasi seluruh ibadah, dan sesungghunya Allah tidak akan menerima sholatnya seseorang yang pakaiannya di beli dengan campuran harta haram. Sebagaimana yang diterangkan oleh hadist.</p>
<p>Dan ini adalah sebagian dari tafakkur pada anggota badan. Ketika dengan tafakkur ini bisa menghasilkan <em>ma’rifat billah</em> maka sepanjang hari orang itu akan tersibukkan dengan <em>muroqobah</em> sehingga dia bisa menjaga anggota tubuhnya dari maksiat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: right;">[<em>Wildan Shofa Nur</em>]</p>
<p style="text-align: right;">Sumber: menaralangitan.com</p>
<p>The post <a href="https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/">Menyelami Keagungan Nikmat Allah dalam Tafakkur</a> appeared first on <a href="https://langitan.net">Pondok Pesantren Langitan</a>.</p>
]]></content:encoded>
					
					<wfw:commentRss>https://langitan.net/menyelami-keagungan-nikmat-allah-dalam-tafakkur-2/feed/</wfw:commentRss>
			<slash:comments>0</slash:comments>
		
		
			</item>
	</channel>
</rss>
