Author: Langitan

Bom “bunuh diri”

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Pengasuh rubrik “Masa’il” Kakilangit yang saya muliakan. Peristiwa meledaknya bom akhir-akhir ini di Pulau Dewata, Bali menarik perhatian, karena ternyata meledaknya bom ini terkait dengan bom bunuh diri. Yang saya tanyakan, apakah usaha orang ini termasuk bisa dikategorikan jihad sebagaimana pengakuan dari orang-orang yang terlibat dalam kasus serupa? Dan apakah bunuh diri seperti ini diperbolehkan ataukah justru dilaknat oleh Allah? Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Fitri, Grobogan, Jateng Jawaban: Peledakan bom bunuh diri seperti yang terjadi Bali yang lalu dengan dalih jihad fisabilillah jelas tidak diperbolehkan, karena bunuh diri seperti itu menimbulkan kerusakan dan membunuh orang yang bukan termasuk termasuk kafir harb (kafir yang memusuhi Islam), selain itu bunuh diri ini tidak untuk mempertahankan keislaman dan keimanan sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Ashhabul Uhdud (orang-orang yang dipaksa masuk ke dalam lubang api yang menyala-nyala, jika mereka tidak mau keluar dari agama Islam). Disamping itu, aksi bunuh diri tersebut bertentangan dengan pengertian jihad yang sebenarnya sebagaimana disebutkan dalam kitab-kitab salaf. Allah Subhanahu wata’ala juga berfirman, “Janganlah kamu semua menjatuhkan diri pada kebinasaan.” (QS. Al Baqarah). Selain itu Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam juga memperingatkan kepada kita agar jangan sampai berbuat sesuatu yang membahayakan diri sendiri atau orang...

Read More

Orang Menyusui Wajib Berpuasa?

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Saya dari pelanggan Kakilangit sejak setahun lalu. Saya ingin bertanya tentang puasa. Bagaimana hukumnya orang yang menyusui apakah wajib berpuasa atau tidak? Karena anak ini tidak minum kecuali ASI. Apabila tidak berpuasa apakah harus mengqodlo’ di bulan lain atau mungkin membayar denda saja? Mohon jawabannya agar di muat dalam majalah. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Marno, Jl. Jelawat Gg. 15 B No 67 Samarinda Ilir, Kaltim Jawaban: Agama Islam tidak membebani sesuatu di luar batas kemampuan para pemeluknya. Seorang ibu yang menyusui jika dia berpuasa dapat menghawatirkan kondisi anaknya, maka agama memberikan kemudahan kepadanya untuk berbuka (tidak berpuasa), namun sebagai konpensasinya, dia tetap diwajibkan qodlo dan membayar fidyah berupa makanan pokok sebesar 1 mud (6 ons) setiap harinya untuk diberikan kepada fuqara masakin. Jika dia menghawatirkan kondisi dirinya dan anaknya sekaligus, maka dia diperbolehkan berbuka, namun dia tetap diwajibkan qodlo (tanpa membayar fidyah). Maraji’: Ianatut Thalibin II,...

Read More

Pasang Jimat

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Dalam kehidupan sehari-hari, terutama di masyarakat awam kita tidak bisa lepas dari urusan magig, terutama jimat. Jimat sangat kental dalam kehidupan kami. Tapi kami bingung, sebab di televisi seorang kiai mengharamkan, sementara kiai yang lain memperbolehkan. Sebenarnya manakah yang benar dalam hal ini menurut pandangan Syara’? Tolong dijelaskan berikut dalil dan referensinya. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh Ahmadi, Ngelo, Tambakromo, Malo, Bojonegoro Jawaban: Dalam masalah ini sebenarnya ada satu hal bisa kita jadikan sebuah ukuran antara boleh dan tidaknya mempergunakan jimat (rajah). Yaitu, jika seseorang meyakini jimat itu hanya sebagai media atau perantara (sababiyah) atas terjadinya sesuatu, sedangkan yang menentukan segalanya adalah Allah Subhanahu wata’ala, maka diperbolehkan (tidak haram). Hal yang sama pernah dilakukan oleh sahabat Khalid bin Walid Radliyallahu anhu pernah menyimpan rambutnya Nabi Muhammad Shollallahu alaihi wasallam dalam kopyahnya. Namun sebaliknya, jika dia meyakini bahwa yang menentukan segalanya adalah jimat tersebut (bukan Allah Subhanahu wata’ala) yang hal ini mengandung unsur syirik (menyekutukan Allah Subhanahu wata’ala), maka hukumnya haram. Dalam hal ini hukum nyuwuk disamakan dengan hukum jimat. Maraji’: Durrul Farid...

Read More

Formalin

Upaya manusia untuk meningkatkan sumber pendapatan (income) dalam sector bisnisnya, akhir-akhir ini memang cukup inovatif. Termasuk diantaranya adalah masalah formalin yang sangat meresahkan komunitas masyarakat luas. Pasalnya bahan pengawet yang semestinya digunakan untuk mengawetkan jenazah tersebut difungsikan oleh sebagian orang untuk bahan campuran makanan agar lebih tahan lama sedikit. Konsekwensinya bisa mengakibatkan penyakit, bahkan mengancam keselamatan jiwa seseorang. PERTANYAAN a. Bagaimana tinjauan syara’ terhadap makanan yang mengandung formalin berikut hukum menjualnya ? Jawaban a. Hukum makanan yang mengandung formalin ditafsil, haram apabila ada bahaya yang nyata & boleh bila tidak bahaya. Dan hukum jual belinya haram dan sah aqadnya bila ada bahaya, dan bila tidak bahaya maka halal dan sah. Ta’bir 1. I’anatut Tholibin juz 2 hal 354 – 355 2. I’anatut Tholibin juz 2hal 354 3. Majmuk juz 9 hal 189 4. Bajuri juz 1 hal 357 5. Buqyatul...

Read More

Radio Langitan


RADIOLANGITAN Android App on Google Playstore

Categories

Archives